Parenting ParentingCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
parenting

Trotoar yang Bercerita: Menemani Warga Pekanbaru Menikmati Seni Instalasi di Ruang Publik

Catatan naratif dari Pekanbaru tentang bagaimana seni instalasi di ruang publik mengubah cara warga berkumpul, berdialog, dan merawat kota.

20 Aug 2026 · 4 menit baca · oleh Erina Sutanto
Trotoar yang Bercerita: Menemani Warga Pekanbaru Menikmati Seni Instalasi di Ruang Publik

Sore itu, saya pulang kerja lewat jalur yang biasanya cuma saya pakai sebagai jalan pintas, trotoar di dekat ruang terbuka kota yang mulai ramai oleh pedagang minuman dingin. Di tengah jalur pejalan kaki, ada rangka besi melingkar dengan potongan kain warna tanah yang bergerak pelan kena angin.

Anak-anak berhenti lebih dulu. Orang tuanya ikut menepi, lalu obrolan kecil muncul begitu saja, “Ini bentuk apa ya?”, “Kok kainnya sengaja dibuat kusut?” Dari momen pendek itu saya sadar, seni instalasi di ruang publik tidak selalu hadir untuk dipandangi rapi seperti karya galeri. Ia justru menyapa orang yang awalnya cuma ingin lewat.

Instalasi kain dan besi di trotoar kota Pekanbaru

Saat kota jadi ruang temu, bukan sekadar ruang lewat

Pekanbaru punya ritme yang khas, cepat, panas, dan kadang terasa fungsional sekali. Kita berangkat, bekerja, pulang, lalu mengulang. Maka, ketika sebuah instalasi tiba-tiba muncul di ruang publik, efeknya terasa cukup besar walau bentuknya sederhana. Ia memecah kebiasaan kita yang sering hanya menatap lurus ke depan. Di taman kota, saya pernah melihat instalasi berbahan bambu dan botol plastik bekas. Tidak ada tulisan panjang yang menggurui, hanya susunan bentuk yang membuat orang mendongak, lalu berputar mencari sudut pandang terbaik Variasi kasusnya saya kupas di parenting.

Seorang bapak yang duduk di bangku taman bilang ke anaknya, “Lihat, sampah bisa jadi cantik kalau diolah.” Kalimat itu terdengar ringan, tapi di sana ada pendidikan lingkungan yang terjadi natural, tanpa panggung formal.

Hal seperti ini yang membuat saya betah mengamati seni instalasi di ruang publik. Pegawai kantor, pedagang, remaja, ibu yang menunggu jemputan sekolah, sampai kakek yang sekadar cari angin bisa bertemu dalam satu momen yang sama. Masing-masing menafsirkan dengan cara sendiri. Tidak ada jawaban tunggal yang perlu dipaksakan.

Instalasi yang baik, menurut saya, bukan yang paling rumit

Sejak menulis pada 2022, saya beberapa kali mengobrol dengan pegiat komunitas kreatif lokal. Mereka sering bilang tantangan terbesar bukan membuat karya, tapi membuat karya itu “nyambung” dengan ruang dan kebiasaan warga. Saya setuju bangeet. Instalasi yang terlalu sibuk kadang justru membuat orang cepat lewat, karena merasa karya itu bukan untuk mereka.

Karya yang dekat dengan pengalaman harian biasanya lebih mudah diterima. Misalnya instalasi dari payung rusak yang digantung bertingkat di koridor pejalan kaki saat musim hujan. Orang langsung terhubung secara emosional, karena payung itu bagian dari hidup kita di kota tropis Sudah saya singgung sebagian di sehari hari.

Dari benda biasa, muncul obrolan tentang cuaca, banjir kecil di gang, sampai cara kita saling bantu saat hujan deras. Kadang karya sederhana justru memberi jeda sedikti sebelum orang benar-benar memahami maksudnya.

Kalau ingin memahami dasar konsepnya, artikel seni instalasi di Wikipedia bahasa Indonesia cukup membantu sebagai pintu masuk. Setelah itu, pengalaman melihat langsung di ruang publik tetap jadi guru utama. Konteks ruang, cahaya, cuaca, dan interaksi warga tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teori, sebagus apa pun penjelasannya.

Merawat karya di ruang publik berarti merawat rasa memiliki kota

Ada satu hal yang sering luput dibicarakan, yaitu fase setelah karya dipasang. Di sinilah ujian sebenarnya. Instalasi di ruang publik berhadapan dengan panas, hujan, tangan jahil, juga ritme kota yang keras. Kalau tidak ada perawatan, karya cepat rusak, lalu orang kembali menganggap seni sebagai proyek sesaat. Catatan lain yang konteksnya berbeda, tapi sama-sama bicara soal ruang yang nyaman, pernah saya tulis di rekomendasi tempat makan romantis.

Saya pernah melihat instalasi yang diberi papan kecil berisi ajakan sederhana untuk tidak memanjat dan tidak mencoret. Kalimatnya sopan, tidak mengomel. Menariknya, warga justru ikut menjaga.

Ada ibu-ibu yang menegur remaja dengan nada halus, ada petugas kebersihan yang menyapu area sekitarnya lebih teliti. Bagi saya, momen seperti ini memperlihatkan bahwa seni bisa memantik rasa memiliki, bukan hanya rasa kagum. Bahasan tentang ajakan yang terasa dekat dengan anak muda juga pernah saya singgung di podcast inspiratif untuk anak muda.

Perubahan kecil seperti itu kadang terlihat sepele, tapi dampaknya bangeet kalau terjadi berulang. Orang punya alasan untuk berhenti sebntar, melihat sekitar, lalu merasa ruang itu bukan hanya milik pemerintah atau pengelola. Ruang itu juga bagian dari keseharian mereka.

Dari sini, percakapan tentang kota bisa tumbuh pelan-pelan. Tidak harus selalu lewat forum resmi atau rapat panjang. Kadang cukup dari orang yang menoleh, bertanya, lalu mulai peduli pada tempat yang setiap hari ia lewati.

Warga menikmati instalasi publik pada sore hari di taman kota

Ketika ruang publik dipenuhi karya yang dirawat bersama, kota terasa lebih hangat dan manusiawi. Kita tidak cuma berbagi jalan, tapi juga berbagi makna. Setiap kali saya melewati instalasi yang mengundang orang berhenti sejenak, saya merasa Pekanbaru sedang belajar menjadi kota yang bukan hanya sibuk, melainkan juga peka pada cerita warganya.

Bacaan lanjutan: Parenting pilihan

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #seni instalasi #ruang publik #pekanbaru